Radio Rodja 756AM
tutorial ilmu desain grafis ilmugrafis indonesia

Minggu, 04 Maret 2012

Hukum Menyingkat Bacaan SAW , SWT !!!

hukum menyingkat shalawat ats Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam(SAW.SWT dan lain lain)

Sering kita jumpai di kartu undangan pernikahan, majalah, surat kabar atau tulisan lainnya yang menyingkat 



SAW, SWT, Ass.wr.wb dari kata-kata Rasulullah SAW, Allah SWT, termasuk salam Ass.wr.wb yang 




merupakan pujian kepada Allah ( سبحانه وتعالى), shalawat dan salam (صلى ا لله عليه وسلم) jug...a do’a  

(السلام عليكم), dan bagaimana hukum menyingkat penulisan SAW, SWT, As.wr.wb tersebut, simak fatwa 

ulama berikut.








Apa hukum masalah ini?

Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh pula menyingkat 



shalawat dan salam atas Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain ini 


dalam pembicaraan. Diterjemahkan dari www.




Bakkah.netFatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)

Bolehkah menulis huruf SAW yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa 



alasannya?





Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa



Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz; Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi; Anggota: 










Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan; Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood

(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., – Volume 12, Halaman 208, 



Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)


yaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? 

Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan, misalnya kita tulis Muhammad SAW 


dengan maksud singkatan dari salallahu ‘alaihi wassalam ?





Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjawab:

“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan. 


Di dalamnya terdapat faedah yang banyak. Di antaranya menjalankan perintah Allah, menyepakati Allah 


Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi 


wasallam, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, 


bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)


Faedah lainnya adalah melipat gandakan pahala orang yang bershalawat tersebut, adanya harapan doanya 


terkabul, dan bershalawat merupakan sebab diperolehnyaberkah dan langgengnya kecintaan kepada 


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana bershalawat menjadi sebab seorang hamba beroleh 


hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak seseorang bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi 


wasallam dan mengingat beliu, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati. Sehingga 


tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap 


apa yang beliau sampaikan.



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan shalawat atas 
beliau dalam beberapa hadits.




Di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah 


Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”



Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam 


bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan 


shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya.dan jangan kalian jadikan 


kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul). Bershalawatlah untukku karena shalawat kalian sampai 


kepadaku di mana pun kalian berada.”

[Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan AbuDawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi 



Dawud]





Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula bersabda:

“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau bershalawat untukku.”

[HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.”]

Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disyariatkan dalam tasyahhud shalat, dalam khutbah, 



saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika 


mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.





Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah,makalah, atau yang 



semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat. Ucapan shalawat ini disyariatkan untuk ditulis secara 


lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Allah Aza Wajallah kepada kita dan agar pembaca 


mengingat untuk bershalawat ketika melewati tulisan shalawat tersebut. Tidak sepantasnya lafazh shalawat


tersebut ditulis dengan singkatan misalnya shad1 islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat 


atau slm1islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat ataupun singkatan-singkatan yang serupa 


dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun.





Hal ini jelas menyelisihi perintah Allah Aza Wajallah dalam firman-Nya:

“… bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”

Dan juga dengan menyingkat tulisan shalawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh 



keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan 


singkatan tersebut atau tidak paham maksudnya.



Menyingkat lafazh shalawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.

Ibnu Shalah Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqqadimah Ibnish 



Shalah Ibnu Shalah IbnuShalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqqadimah 

Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yangbelajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan 


penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia 


bosan memengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan 


penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia 


bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rasulullah.”





Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut:



Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.



Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan wassalam islam Fatwa 


Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat

Al-‘Allamah As-Sakhawi Al-‘Allamah As-Sakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil 



‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau 


menyingkatnya menjadi duahuruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan 


oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Ara secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat 


lafazh shalawat dengan saw dan shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda 


dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.

As-Suyuthi As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, mengatakan, 


“Dibenci menyingkat shalawat dan salam dalam penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti 


menulisnya dengan slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”

Inilah wasiat saya kepada setiap muslim danpembaca juga penulis, agar mereka mencari yang utama atau 


afdhal, mencari yang di dalamnya ada tca juga penulis, agar mereka mencari yang utama atau afdhal, mencari 


yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapatmembatalkan atau 


menguranginya.”







(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 



2/396-399)

Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 



Hal. 89-91.



Hendaknya kita mulai sekarang menulis lengkap tulisan tersebut dan tidak dengan menyingkatnya seperti:

ASS dengan Assalamu'alaikum

SAW dengan Shallalahu ‘alahi wassalam (صلى ا لله عليه وسلم)

SWT dengan Subhanallahu wa Ta’ala ( سبحانه وتعالى)

Ass.wr.wb dengan Assalamu’alaykum Warahmatullahi wabarakaatuh (السلام عليكم)



Wallahu Alam, semoga bermanfaat buat kitasemua



baca on facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar